Sudah 22 tahun gue
hidup didunia ini yang sampai saat ini gak ngerti apa itu dunia dimana gue
berada. Pencarian tentang alasan dan
tujuan ini sudah mulai terlintas dibenakmu semenjak sudah mulai bias berpikir. Terlalu sombong kalau mengatakan semenjak gue
bias berpikir, karena gue sudah mulai berpikir semenak gue terlahir atau
menhirup udara bebas ketika gue dilahirkan. Gue cuman gak bias saja mengingat
apa yang gue alamin saat itu. Gue sadar gue terlahir sebagaai mahkluk yang
lemah tanpa bias mengingat sedikitpun apa yang terjadi saat itu. Gue sadar
kemampuan otak gue dalam merekam kejadian belum berkembang. Kejadian penting mungkin banyaak yang gue
buang begitu saja.
Pencarian tujuan hidup
gue berlangsung begitu lama dan ssampai saat ini gue belum ngerti mau kemana
gue akan pergi untuk menemukan tujuan yang aku cari dalam hidupku. Gue beruaha
berpikir beba tanpa terikat oleh apapun dan emlepaskan dari genggaman kerangka
berpikir yang sudah jadi aturan baku dalam kehidupan social tanpa menghiraukan
akibatnnya. Gue lebih mengandalkan pemikiran untuk menyeleaikan sesuatu problem
dalam hidup gue untuk mengetahui sebenarnya apa tujuan hidup gue. Disaat gue
melepakan pikiran dari aturan-aturn dunia entah kenapa gue semakin melenceng
dari jalur yang gue jalanin. Pandangan mengenai agama sudah terlalu kental
dalam hidupku, apapun yang gue alamin selalu terelasaikan dengan alas an agama.
Gue berusaha berpikir bebas dari ikatan agama dan konsep ketuhanan untuk
menemukan tujuan hidup gue itu apa dan taka da apapun yang gue dapat. Semakin
gue berpikir keluar dari agama gue merasa semakin jauh dari agama. Gue bukan
orang yang agamis, tapi gue tau dan menjalani apa yang di agama gue anjurkan,
gue juga sering melanggar apa yang menjadi larangan yang di agama gue. Gue bukan
orang yang munafik, ketika gue melakukann pelanggarn terhadap agama gue, disana
gue menemukan secercah kesenangan. Oke kesenangan emang gue temukan, tapi bukan
kebahagiaan dan gue juga bingung konteks kebahagiaan yang dimaksudkan ada di
dunia ini. Ketika gue ngerasa bahagia, sekejap itu uga perasaan bahagia itu
hilang, dan hanya meninggalkan suatu kenangan yang dapat diingat bukan
dirasakan. Apakah ketika ssutu kebahagian ditemukan, kebahagiaan itu mati dan
kita mencari kebahagiiaan yang lainnya. Apakah kebahagiaan itu suatu ledakan
emosi yang terkendali yang datng bagai petir dan sekejap itu hilag ? apakah
kebagiaan suatu hal yang nyata ? gue selalu memikirkan ingin menemukan
kebahagiaan dalam hidup gue, apakah hanya kebahagian yang ingin kita temukan dudunia
ini.
Dunia adalah tempat
dimana kita berada. Gue bisa tau gue hidup atau merasakan kalau gue ada didunia
hanya karena gue merasakan kalau gue merasakan kalau gue ada. Keberadaan yang
gue maksudkan ini adalah suatu pemikiran yang meyakinkan kalau gue merasakan
keberadaan gue ada. Gue pernah engar entah itu dimana, tapi bunyinya gini, kita
ada karena kita berpikir kalau kita ada. Oke, gue emang ngerti kata-kata yang
dimaksud disana. Tapi yang gue sanagt tidak mengerti adalah apakah orang gila
sebut saja orang yang pikirannya sudah kurang atau hancur itu ada, dalam artian
apaakah orang orang gila bisa merasakan keberadaaan dirinya sendiri. Apakah
kehidupan ini hanya permainan sebuah pikiran. Pikiran ini benar-benar suatu
yang sangat aneh kalau gue piker. Begitu besar peranan pikiran dalam sebuah
kehidupan. Bahagia dan kesedihan itu kalau gue piker hanya permainan yang
dipikiran. Gue selalu berpikir dan beripikir apakah yang aku alamin ini hany
suatu program yang saling meiliki hubungan sebab akibat. Pemikiran irasional
yang terjadi dalam hidup gue terus menggeroti diri gue untuk mendalami siapakah
gue ini. Sampai saat ini kalau ada orang yang nanya gue, gue cuman bisa jawab
kalau gue yusfi. Oke, apa itu yusfi, siapa yusfi ? apakah yusfi hanya sebutan
untuk memudahkan orang untuk memangil gue. Apakah yusfi itu hanya sebuah kata
yang akan gue sandang sampai gue tidak bisa merasakan keberadaan gue lagi. Gue
berpikir dan terus berpikir sejauh mana yusfi itu memberikan pengaruh terhadap
sekitarnya. Kadang gue piker lebih mudah kalau kita membuat satu alat yang
tentunya itu benda mati dan kita
tentukan sendiri tujuannya. Gue sadar kalau yusfi itu hanya sebuah bungkus
untuk membuktikan kalau keberadaan gue itu ada. Yusfi itu kalau gue artikan
secara abstrak adalah suatu raga yang membungkus keberadaan gue. Gue terlalu
jauh memang memikirkan konteks yang sedalam ini. Diumur gue yang sudah 22 tahun
ini pencarian tentang eksistansi keberadaan gue ini belum dapat terpecahakan.
Penjelaskan yang dapat gue jelaskan untuk menjelasakn siapa gue dalam arti
khusus disini adalah sosok yusfi yang berada didunia yang sudah ada disini
selama 22 tahun. Gue cuman sosok sesuatu yang gue sebut sebagai sesuatu yang
berada didalam dirin yusfi dan itupun Cuma dapat gue jelaskan berdasarkan apa
yang dia lakukan.
Jadi pendiskrifsian
kita terhadap orang itu hanya berdasarkan apa yang dia lakukan didunia. Dunia
dimana sesorang tinggal untuk sementara, sementara karena sesuatu yang hidup
itu pasti mati. Sekali sesuatu yang hidup
itu pasti mati dan apakah gue disini hidup. Karena sosok yang hidup disini
adalah raga yang membungkus keberadaan kita. Artinya gue disini bersifat
abadikan dan dimanakah letak keabadian kita ini.
Apakah dunia masih ada
ketika gue tidak ada lagi didunia dimana orang hidup berada.
jangan terlalu serius bacanya, cuman cuap-cuap gue aja.
